Aku takkan pernah kembali, Asta. Seberapapun kuatnya kau memohon, seberapapun besarnya kau meminta. Karena kau adalah serpihan masa lalu yang kunamai ‘kesalahan’.
Rasi bintang bergambar kalajengking yang menaungiku memang agak unik. Lihatlah di semua ramalan zodiak tentang kesetiaan, maka akan kau temukan gambar kalajengkingku di urutan kesebelas, diantara duabelas zodiak. Dan aku memang begitu, tak pernah bisa menjaga hati. Selalu mudah jatuh cinta. Tapi itu sebelum aku mengenalmu.
Kuingat dengan sangat jelas, bahwa kamu adalah orang pertama yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Di sudut kampus putih itu, dimana kamu terpaku menatap leptopmu, dan aku terpaku menatapmu. Lalu semuanya mengalir begitu saja, saat aku berusaha mengenalmu lebih jauh dengan pesan-pesan itu. Saat itu aku tak tahu, dan tak ingin tahu, apakah kau telah memiliki kekasih atau belum. Aku hanya ingin menikmati semua waktu dan katamu untukku. Aku hanya ingin membuatmu tersenyum dan merasa nyaman.
Lalu pada suatu sore kelabu, seorang sahabatmu tiba-tiba menghampiriku dan bertanya, apakah aku mencintaimu? Dan aku hanya terdiam. Lalu keesokan harinya kita bertemu, dan kamu menundukkan kepalamu. Siang hari itu juga aku baru tahu, kau baru saja menjadi kekasih orang lain beberapa jam lalu.
Aku benar-benar tak mengerti Asta. Dengan hatiku. Dengan hatimu. Maka aku hanya bisa melampiaskan kesedihanku pada berlembar-lembar kertas putih yang kuisi penuh amarah dan menjadi basah oleh air mataku. Aku memang lemah.
Dan di hari kelulusanku, setahun setelah peristiwa kelabu itu, aku berpamitan padamu untuk pergi selamanya dari hidupmu. Membawa semua kesetianku padamu, yang untuk pertama kalinya ada dalam sifat kalajengkingku.
Kamu tersedu dan banyak bicara, namun aku tak sekalipun membiarkanmu meyelesaikan kalimatmu.
“Sebenarnya aku menyayangimu, tapi…”
“Tapi kamu bingung pada hatimu, dan memutuskan meninggalkanku kan?” sergahku.
“Jangan pergi, aku…”
“Kamu tak ingin kehilangan pelawak yang selalu ada dan bisa membuatmu tertawa. Kamu membutuhkanku, bukan menyayangiku” aku memotong kalimatmu lagi.
Lalu aku menggenggam tanganmu dan berkata “ Kamu adalah kesetiaan pertamaku, dan mungkin terakhirku. Aku tetap ingin berterimakasih karena kau mengajarkanku arti mencintai dengan tulus dan setia. Tapi aku takkan pernah kembali, Asta. Seberapapun kuatnya kau memohon, seberapapun besarnya kau meminta. Karena kau adalah serpihan masa lalu yang kunamai kesalahan”
Dan hujan mengaburkan air mata kita di depan kampus putih itu. Demi masa depan, aku bersumpah takkan berhenti setia mencintaimu. (Ve!)